Tiket itu dibeli tiga menit sebelum keberangkatan. Tidak ada rencana, tidak ada penginapan. Hanya tas ransel dan satu kamera dengan satu roll film tersisa.
Saat kereta mulai bergerak, saya sadar — ini mungkin keputusan paling tidak bertanggung jawab yang pernah saya buat. Tapi juga yang paling mengasyikkan dalam setahun terakhir.
Kota itu kecil. Tidak ada di daftar destinasi wisata mana pun. Tapi ada satu warung kopi di tepi rel yang membuat kopi tubruk paling jujur yang pernah saya minum. Dan seorang bapak tua yang cerita tentang kota ini dua puluh tahun lalu, sebelum semua berubah.
Satu roll film. Tiga puluh enam frame. Tidak ada yang Instagram-worthy. Tapi semuanya nyata.